Harley-Davidson menjadi sorotan. Bukan karena meluncurkan motor gede (moge) terbaru, melainkan membuat keputusan sulit untuk merumahkan ratusan karyawan akhir tahun ini.

Bukan tanpa sebab, pil pahit ini harus ditelan lantaran saham perusahaan betah berada di level terendah dalam dua tahun terakhir. Saham perusahaan anjlok hampir 15 persen atau yang terendah sejak Juni 2013.

"Pasar turun drastis tahun ini," ujar Chief Executive Officer Harley-Davidson, Matt Levatich.

Untuk merespons kondisi pasar yang sedang tidak menguntungkan, Harley-Davidson, katanya harus meningkatkan modal marketing dari US$ 30 juta menjadi US$ 35 juta. Dengan memangkas pekerja, perusahaan bisa mengalokasikan dana lebih untuk itu.

Sebagaimana dilansir dari Bloombergbusiness, Kamis (22/10/2015), untuk tahun depan, seluruh budget akan dialokasikan ke pemasaran sebesar 65 persen dan pengembangan produk baru 35 persen.

Secara global, penjualan Harley-Davidson turun 1 persen. Bahkan di Amerika Serikat (AS) terkoreksi sebanyak 2,5 persen. Untuk merangsang pertumbuhan, perusahaan berencana membuka 200 dealer baru hingga 2020.

SUMBER : Liputan6.com,

0 komentar:

Post a Comment