Pendiri perusahan, John Karambalis, awalnya ingin mengembangkan sepeda listrik pada tahun terakhir kuliahnya untuk bidang teknik mekanika dan ruang angkasa pada tahun 2005. Namun dia diingatkan bahwa gagasannya tidak relevan dengan ‘dunia nyata’.Satu dekade kemudian, sepeda listrik Stealth dijual di seluruh dunia.Namun gagasan itu tidak akan terwujud jika surat izin mengemudi Karambalis tidak dicabut setelah melakukan pelanggaran lalu lintas.Karena harus mengayuh 40 km setiap hari untuk bekerja dengan medan naik turun yang menantang, dia kemudian memodifikasi sepeda gunungnya untuk dilengkapi dengan mesin listrik dan baterai, yang terbukti bisa diandalkan.

Rancangan itu dikembangkan setelah Karambalis belajar lebih banyak tentang teknologi baterai dan akhirnya menghasilkan baterai yang dipasang di rangka sepeda.“Saya waktu itu tidak punya keinginan untuk mendirikan perusahaan yang menjual sepeda, namun saya menerbitkan foto sepeda itu di sebuah forum internet dan seseorang ingin membelinya,” kata Karambalis.Daya tarik sepeda Stealth jelas pada sensasinya namun jelas kelebihan lainnya adalah nyaris tanpa suara di lingkungan alam.Manajer pemasaran Stealth, Theresa Mischkulnig, menjelaskan, “Sepeda motor biasa yang kotor akan mengusir satwa liar: burung, kanguru, atau yang lainnya, namun dengan sepeda listrik ini mereka tidak tahu Anda datang sehingga Anda bisa amat dekat.”

Jelas daya tarik Stealth tidak hanya untuk kalangan pecinta alam. Militer dari beberapa negara juga dilaporkan tertarik karena nyaris tanpa suara sebagai pilihan lain dari sepeda motor biasa. Memutuskan helm yang akan digunakan saat mencoba sepeda listrik Stealth ternyata bukan soal mudah. Sepeda listrik Stealth pada dasarnya adalah sepeda gunung biasa, jadi pelindung setengah kepala mestinya sudah cukup. Namun di balik rangka sepeda dari chrome (atau unsur kimia chromium) ada mesin listrik berkekuatan 5,2 kW, yang mampu memberikan laju cepat mendadak yang bisa menjatuhkan pengendara.Jadi setelah mempertimbangkannya kembali, helm sepeda motor mungkin lebih tepat.Stealth -sebuah perusahaan Australia yang memproduksi kreasi di daerah pinggiran Melbourne- menggambarkannya sebagai gabungan mesin motocross dan sepeda gunung.

Ada tiga model: tingkat awal F-37 Fighter, B-52 Bomber –yang memiliki pedal dan motor- serta H-52 Hurricane –dengan pedal terkunci sehingga seperti motocross.Nomor pada tiap model mencerminkan kekuatan mesin, dan 3,7 kW serta 5,2 kW cukup mendorong kreasi seberat 53 kg ini bisa mencapai kecepatan maksimal sampai 80 km/jam.Mengendarai Stealth Bomber seperti sesuatu tidak nyata. Ada tenaga kuat yang mendadak. Mengangkat ban depan sambil berjalan (wheelie) tidak perlu upaya besar. Jelas mudah mengayuh tanpa bantuan tenaga listrik di jalanan datar namun Anda akan bisa merasakan beratnya ketika mulai mendaki.Stealth lebih berat beberapa kali dibanding sepeda gunung biasa namun amat ringan dibanding dengan sepeda motor. Beratnya yang relatif kecil dikombinasikan dengan baterai lithium-ion phosphate membuat pengendara bisa mengayuh sampai dengan kecepatan 80 km/jam, begitulah kata perusahan pembuatnya.

Sama seperti mobil hibrida, Stealth memanen energi ketika berjalan menurun sehingga mengisi baterai. Jika baterai diambil dari sepeda, maka hanya perlu dua jam untuk mengecasnya sampai penuh.Salah satu kelebihan utama Stealth adalah layar komputer yang bukan hanya memperlihatkan seberapa banyak tenaga listrik yang digunakan namun juga yang dihasilkan oleh kayuhan dan -yang lebih penting lagi- jarak tempuh berdasarkan sisa tenaga listrik yang masih ada.Harganya di Amerika mulai dari 7.900 dolar AS (Rp 106 juta) untuk Fighter, 9.700 dolar AS (Rp 130 juta) untuk Bomber, dan 9.900 dolar AS (Rp 133 juta). Waduh buat harga segitu kita udah dapat trail KTM 125 EXC 2 tak yang tenaganya lebih beringas, tapi bagi anda yang mau nyoba sensasi lain dari sepeda gunung motorcross coba saja (bbcnews)

0 komentar:

Post a Comment